Seni Beladiri Islam
Pengertian Seni Beladiri
Dalam wikipedia.com, dikatakan bahwa Seni Beladiri merupakan satu
kesenian yang timbul sebagai satu cara seseorang itu mempertahankan
diri. Seni bela diri telah lama wujud dan pada mulanya ia berkembang di
medan pertempuran sebelum secara perlahan-lahan apabila peperangan telah
berkurangan dan penggunaan senjata
modern mula digunakan secara berleluasa, seni bela diri mula berkembang
dikalangan mereka yang bukannya anggota tentera tetapi merupakan orang
awam.
Meniti Seni Beladiri Islam
Untuk mengkaji beladiri hendaklah kita tidak menyimpang dari Aqidah
Islamiyah, karena mengkaji beladiri tanpa pengetahuan yang mendukung
dapat mengakibatkan rusaknya Aqidah Islamiyah kita, baik secara langsung
ataupun tidak langsung.
Dasar pengkajian yang kita lakukan hendaklah sesuai dengan firman Allah sebagai berikut :
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya”. (QS Al Israa’ : 36)
Di dalam ayat tersebut di atas Allah menginginkan kita sebagai
hambanya untuk mengadakan penelitian yang mendalam tentang sesuatu yang
akan ita kerjakan atau kita ikuti. Begitu pula dengan masalah beladiri
yang akan kita ikuti harus kita teliti terlebih dahulu.
Dengan penelitian ini diharapkan kita sebagai umat Islam tidak
terjebak dengan permasalahan dan perbuatan kita yang merusak aqidah
kita, baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga kita semua yang
berminat mengkaji beladiri berada di jalan Allah.
Suatu aliran beladiri bisa dikatakan Islam jika sudah memenuhi kriteria berikut :
A. Niat untuk Belajar Beladiri
Niat merupakan sesuatu yang menentukan pekerjaan kita, apakah dapat
dinilai sebagai ibadah ataupun tidak oleh Allah. Begitupun mempelajari
beladiri segalanya tergantung oleh niat kita apakah hanya mencari sehat,
atau tujuan lainnya, sebagaimana hadits berikut :
”Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya” (HR Bukhari)
” Dan barang siapa menghendaki pahala dunia niscaya kami berikan
kepadanya pahala dunia itu dan barang siapa menghendaki pahala akhirat
kami berikan pahala akhirat itu ” (QS Ali Imran : 145)
Hendaklah tujuan dalam mempelajari beladiri hanyalah untuk membela
hak kita sebagai seorang muslim yang menjadi khalifah di muka bumi ini.
B. Baik dari Segi Aqidah
a. Janji yang diucapkan dalam beladiri
Janji yang diucapkan haruslah sesuai dengan ketentuan syariah dan melanggar batas-batas yang diharamkan Allah
b. Perhatikan dan teliti lambang yang digunakan
Lambang beladiri tidak boleh menyalahi syariah, misalnya :
o Segitiga sama kaki, baik terbalik ataupun tidak ini melambangkan kaum zionis Yahudi
o Swastika melambangkan aqidah Hindu / Budha
o Bintang Segi Enam yang terdiri dari dua buah segitiga sama kaki, ini melambangkan Bintang Yahudi
o Dan lain-lain
c. Perhatikan cara penghormatan (sikap tangan dalam penghormatan)
Sikap tangan banyak yang tanpa kita sadari melambangkan suatu aqidah agama lain.
Berikut akan kita lihat arti sikap tangan (mudra) dalam kita Weda
Parikrama susunan G.Pudja terbitan tahun 1972 di halaman 57
berbunyisebagai berikut :
” Tiap arah dengan nama mudra tersendiri dalam tiap mudra melambangkan aspek dewata dengan arti tujuan tertentu”.
Jadi kalau kita melakukan penghormatan dengan sikap tangan yang
melambangkan suatu dewa tertentu, berarti kita telah mensekutukan Allah
secara tidak langsung.
D. Teknik pernafasan yang digunakan
Memahami teknik pernafasan sama pentingnya dengan memahami sikap
tangan. Banyak teknik pernafasan yang menggunakan metode pernafasan
agama lain yang bagi mereka merupakan salah satu cabang ibadah.
(misalnya pernafasan Yoga)
E. Cara meningkatkan kemampuan diri
Tidak diperkenankan menggunakan bacaan-bacaan tertentu ataupun
upacara-upacara tertentu yang mempunyai syarat tertentu pula, maka kita
akan terjerumus dalam masalah kemusyrikan, misalnya puasa 7 hari
berturut-turut dan tidak tidak tidur dengan dzikir tertentu untuk
mendapatkan ilmu kebal, ilmu kekuatan dan atau dengan cara dilakukan
pembukaan sebelum belajar tenaga dalam, sehingga setelah dibuka
seseorang akan meningkat kemampuannya.
Latihan fisik harus benar-benar mengerahkan kemampuan fisik, jangan
dicampuri dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan latihan
fisik.
F. Cara melakukan jurus / gerakan dalam beladiri
o Tidak melakukan gerakan yang seronok dan menggunakan alat bantu
yang tidak sesuai syariah, misalnya jurus mabuk yang akan efektif
digunakan dengan cara minum minuman keras terlebih dahulu
o Percampuran antara pria dan wanita.
o Menyamakan jurus pria dan wanita sehingga terjadi perubahan gerak
dan perilaku seorang wanita menjadi seperti seorang pria atau seorang
pria yang berubah menjadi wanita.
o Pakaian pria dan wanita harus sesuai dengan kaidah syariah yaitu menutup aurat dan tidak menyerupai satu sama lain.
” Rasulullah melaknat laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki’. (HR Bukhari)
” Rasulullah melaknat laki-laki yang berpakaian serupa pakaian perempuan dan perempuan yang berpakaian serupa pakaian laki-laki. (HR Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Hakim)
C. Baik dari Segi Kesehatan
Salah satu tujuan dan hasil beladiri adalah badan yang sehat dan
kuat, sehingga setiap gerakan harus selalu mendukung kearah sana. Tidak
diperkenankan melakukan gerakan yang akan merusak atau memperlemah badan
kita.
Misalnya gerakan yang tidak tepat adalah :
o Cara menendang yang salah yaitu mengunci sendi lutut sehingga dua
tulang di bawah tempurung lutut beradu, pada akhirnya mengakibatkan
lecet.
o Cara memukul yang salah yaitu mengunci sendi sikut yang dapat
mengakibatkan terjadinya lecet pada tulang hasta akibat berbenturan
tulang
o Memukul-mukul benda keras tanpa lapisan lunak dapat mengakibatkan
terjadinya penumpukan asam urat yang akan menyebabkan trauma sendi.
o Memukul-mukul leher yang mengakibatkan pusat sistem saraf yang berada di batang otak terganggu.
o Melakukan pemanasan yang tidak tertib seperti menahan nafan dengan
keras atau gerakan pemanasan yang terlalu keras pada awal latihan. Ini
dapat mengakibatkan sistem peredaran darah terganggu akibat sendi, otot,
jantung belum dipanaskan terlebih dahulu.
o Dan lain-lain yang perlu diteliti dari segi kesehatan agar tidak terjebak pada hal-hal yang mendzolimi diri sendiri.
Thifan Po Khan
Setelah tadi meniti bagaimanakah seharusnya Seni Beladiri Islam,
berikut kajian mengenai Seni Beladiri Islam yang sudah diketahui oleh
khalayak yaitu Thifan Po Khan.
Asal-Usul Thifan Po Khan
Beladiri Thifan adalah ilmu perkelahian tersendiri dan pecahan dari
Tae Kumfu (Shaolin Kungfu). Tae berarti “Dahsyat, hebat, ajaib” dan
Kumfu atau kungfu diartikan “Tekun, tenaga terpusat dan kebaikan” yang
berasas pada ajaran Budha.
Saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan
Asia Timur, para da’i mengembangkan ilmu bela diri muslim yang dinamakan
Thifan Po Khan. Maka Tae Kumfu kemudian pecah menjadi dua jenis yaitu
kungfu Shaolin yang beragama Budha dan Thifan Po Khan yang beragama
Islam. Thifan Po Khan diolah dan dikombinasi dengan beladiri lainnya
serta sudah dibersihkan dari unsur-unsur kesyirikan dan kejahiliyahan.
Tenaga Dalam yang dianut juga mengalami perubahan, yang semula memakai
Chi Kung yang masih dipelajari dalam Kungfu Shaolin sampai sekarang
menjadi Dath.
Dalam bahasa Urwun, Thifan Po Khan memiliki arti “pukulan tangan
bangsawan”. Disebut demikian karena gerakan-gerakan dalam thifan relatif
halus dibandingkan beladiri serumpunnya seperti Syufu Taesyu Khan yang
diperuntukkan untuk pasukan penyerang, sehingga beladiri yang halus ini
dianggap cocok untuk para bangsawan pada waktu itu.
Sejarah Thifan Po Khan
“Kamu itu dididik untuk Islam dan demi Islam, jika kamu telah selesai
kelak, camkanlah dalam lubuk hatimu bahwa ilmu yang terpegang itu bukan
semata-mata milikmu”.
Thifan adalah nama suatu daerah di Negeri Turkistan Timur, daerah
jajahan China yang kemudian diganti namanya menjadi Sin Kiang, yang
artinya Negeri Baru (Lihat Turkistan: Negeri Islam Yang Hilang, DR.
Najib Kailany). Namun kalau kita simak dalam peta dunia, yang akan kita
temukan adalah nama Turfan, daerah otonomi yang termasuk dalam wilayah
China Utara.
Turkistan Barat dijajah oleh Rusia yang memasukkannya ke dalam
wilayah Uni Sovyet. Sebelum Islam datang ke daerah ini, beberapa suku
asli seperti Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan, Mongol, Naiman, dan
Kati telah memiliki sejenis ilmu beladiri purba berbentuk gumulan, sepak
tinju dan permainan senjata yang dinamakan “kagrul”, yang dipadukan
dengan pengaturan napas Kampa.
Dakwah Islam mulai disebarkan di Turkistan kira-kira pada dua abad setelah hijriah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Zhodam :
“Maka tatkala sampailah dua abad lepas hijrah orang-orang sempadan
tanah China arah utara itu masuk Islam. Lalu ilmu pembelaan diri masa
mereka memeluk Budha itu dibawanya pula dalam alam Islam, tetapi
ditinggalkannya segala upacara yang bersangkut paut dengan kebudhaannya
seumpama segala penyembahan, cara bersalam dengan mengatupkan kedua
belah tangan, lambang-lambang, dan segala istilah.”(ZHODAM, Syiharani,
halaman 9).
Menurut M. Rafiq Khan dalam bukunya “Islam di Tiongkok”, mengatakan sebagai berikut :
“Orang Muslim pertama yang datang di Tiongkok ialah dalam zaman
pemerintahan Tai Tsung, kaisar kedua dari dinasti Tang (627-650 Masehi).
Jumlah mereka ada empat orang, seorang berkedudukan di Kanton, yang
kedua di kota Yang Chow, yang ketiga dan yang keempat berdiam di kota
Chuang Chow. Orang yang mula-mula mengajarkan Islam ialah Saad bin Abi
Waqqas, yang meletakkan batu-batu pertama mesjid Kanton yang terkenal
sekarang sebagai Wai-Shin-Zi, yaitu Mesjid untuk kenang-kenangan kepada
Nabi”
Dituliskannya pula bahwa selama Pemerintahan Tai Chong (Kaisar ke-2
dari Dinasti Tsung tahun 960-1279 Masehi) Tiongkok diserbu oleh penguasa
Muslim dari Kashgharia, yaitu Baghra Khan beserta pasukannya, lalu
menduduki Sin Kiang (Simak : Islam di Tiongkok; M. Rafiq Khan dan
Sejarah Da’wah Islam; Thomas W. Arnold).
Hal ini disepakati oleh seorang China ahli sejarah terkenal yang
bernama Prof. Chin Yuan menyatakan bahwa orang-orang Islam mengirimkan
utusan-utusan mereka ke Tiongkok dalam tahun 651, utusan-utusan itu
bertemu dengan Kaisar Tiongkok di Changan (Sianfu), ibukota Tiongkok
pada waktu itu. Pada tahun 713 M. perbatasan barat Tiongkok dikuasai
oleh seorang jenderal Arab yang terkenal bernama Qutaiba bin Muslim,
pada waktu itu ia telah menaklukkan daerah yang luas di Asia Tengah dan
namanya sangat ditakuti.
Dari uraian di atas dapat dilihat bagaimana hubungan atau interaksi
antara dakwah Islam dengan tumbuhnya berbagai macam beladiri di kawasan
China, sehingga terjadi pula Islamisasi beladiri. Sesuai dengan bahasa
Urwun yang merupakan bahasa asalnya, Thifan Po khan berarti “Kepalan
Tangan Bangsawan Thifan”. Beladiri ini mempunyai riwayat tersendiri yang
khas sebagaimana diceritakan dalam kitab yang bernama Zhodam.
Pada awalnya ada sejenis cara pembelaan diri purba berbentuk gumulan,
sepak tinju dan permainan senjata yang disebut Kagrul, bercampur Kumfu
China Purba. Tersebutlah seorang pendeta Budha bernama Ponitorm/Tamo
Sozhu/Tatmo/Darma Taishi yang berasal dari Hindustan, ia mengembara ke
China untuk menyebarkan ajarannya.
Dalam pengembaraannya sampailah ia ke kawasan Liang yang diperintah
oleh Raja Wu, karena terkena fitnah ia melarikan diri dan sampai di
Bukit Kao, di sana ia merenung selama 9 tahun. Menyadari murid-muridnya
sering mendapat gangguan, baik dari binatang buas, manusia, atau
penyakit yang mengakibatkan kurang lancarnya misi penyebaran agama
Budha, maka ia pun menyusun suatu rangkaian gerak pembelaan diri seperti
tersebut di atas.
Campuran Kumfu China Purba dengan Kampahana Tinju Hindustan yang
diatur dengan jalan pernapasan Yoga Dahtayana membentuk Shourim
Kumfu/Shaolin Kungfu di wihara-wihara. Pengkajian beladiri ini disusun
dalam Kitab I Zen Zang serta ilmu batinnya dalam Kitab Hzen Souzen.
Sampai di sini ada kesamaan sejarah dengan beladiri lain seperti
Shorinji Kempo, Karate, dan lain-lain, yang masih satu sumber.
Aliran Shourim terus berkembang ke arah utara China dan memasuki
daerah orang Lama (Tibet) dan orang Wigu (Turkistan). Di sana aliran
Shourim ini pun pecah menjadi berpuluh-puluh cabang. Setiap cabang pun
berkembang dan terpengaruh alam tempat pertumbuhan aliran tersebut.
Pecahnya Shourim menjadi berbagai macam aliran ini disebabkan Dinasti
yang berkuasa tidak menyukai orang Shourim.
Tersebutlah seorang bangsawan bernama Je’nan dari Suku Tayli yang
pandai ilmu Syara dan terkenal sebagai ahund (ustadz atau guru) muda.
Je’nan menghimpun ilmu-ilmu beladiri itu dan ia pun berguru pada
pendekar Namsuit serta orang-orang Wigu. Bersama para pendekar Muslim
lain yang memiliki keahlian ilmu Gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, Silat
Kitan, Tayli, mereka pun membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan
(siasat para raja / bangsawan) .
Dari Shurul Khan inilah terbentuk sembilan aliran, aliran-aliran ini
kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, lalu dipilah, diteliti
dan dikaji sebagai cikal bakal munculnya Thifan Po Khan. Pada masa itu
pengaruh ajaran Islam sudah masuk ke dalam beladiri ini.
Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia (PTI)
Ternyata di Indonesia ada lho persaudaraan Thifan Po Khan. Ini
berarti Indonesia sudah lama mengenal Seni Beladiri Islam. Persaudaraan
yang dibentuk bertujuan untuk menyatukan kelompok-kelompok bela diri
Thifan Po Khan dalam satu organisasi yang berlandaskan Al Qur’an dan As
Sunnah, serta berbadan hukum yang diresmikan oleh pemerintah Indonesia
ini dinamakan Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia atau jika disingkat
menjadi PTI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar